Khamis, 23 September 2010

Bintang Kerlipan Syaziliyyah : Syeikh Zarruq


Syeikh Zarruq Ulama Sufi yang Cemerlang dari Fes

Namanya Abul Abbas Ahmad bin Ahmad bin Muhammad bin Isa. Ia bernasab dengan kabilah Baranis dari Fes, Marokko, yang kemudian dinasabkan dengan Al-Burnusy. Panggilannya adalah Zarruq, dipanggil demikian karena kakeknya bermata biru.

Syeikh Zarruq dilahirkan hari Kamis ketika matahari terbit, 28 Muharram tahun 846 H, atau 1442 Masehi. Demikian disebutkan oleh Ummul Banin, seorang perempuan ahli fiqih yang shalihah, nenek dari Syeikh Zarruq. Setelah dua hari lahir, ia ditinggal wafat oleh ibundanya, di hari sabtu, dimana usia ibundanya waktu itu 23 tahun. Setelah itu ganti ayahandanya wafat, ketika usia jabang bayinya masih 5 hari. Usia ayahandanya 35 tahun.

Kata Syeikh Zarruq, ayahandanya memberi nama Muhammad, lalu sepeninggal ayahandanya oleh neneknya digannti dengan Ahmad. Hingga Allah memadukan dua nama mulia pada dirinya. "Aku memilih nama Ahmad karena tiga alasan," Syeikh Zarruq:
Pertama, saya senang dengan nama itu, disamping aku dibesarkan di pangkuan nenekku. Nenek seorang yang penuh kasih sayang, seorang yang sangat alim dan shalihah.
Kedua, nama itu begitu kuat, tidak berubah, bahkan tetap dengan nama itu sepanjang tahun.Ketiga, nama ahmad adalah nama yang dikabargembirakan oleh Allah kepada Nabi Isa as, dan tidak pernah disebutkan sebelum Nabi dan Rasul sebelum Nabi kita Muhammad saw.

Masa Kecil

Masa kecil Syeikh Zarruq sebagai yatim piyatu, berada di pangkuan neneknya, seorang faqih yang shalihah, tumbuh dengan pendidikan yang sangat bagus, penuh kecerdasan dan perilaku budi luhur. Sejak kecil ditanamkan iman, dan kesalehan, terutama dalam disiplin sholat. "Nenek mengajariku sholat, dan memerintahkannya ketika usiaku masih 5 tahun. Sejak usia lima tahun aku disiplinkan sholatku, dan aku belajar menulis di usia itu. Nenek juga mengajariku tauhid dan tawakkal, keimanan dan keagamaan dengan cara yang luar biasa."

Salah satu yang menakjubkan, yang diceritakan beliau, "Ketika aku masuk di sebuah perpustakaan, seorang faqih menulis surat Alamnasyroh di telapak tangan kananku, dengan tinta dari madu, lalu aku menjilatinya. Pada saat itulah aku menjadi anak yang paling bagus hafalannya…. Bahkan aku tidak tahu, kalau aku tak pernah sekalipun menghafal wahyu sama sekali, kecuali hanya sehari atau dua hari saja…"

Masa kecilku tidak pernah bermain-main di masjid, dan tidak pernah aku berlari-lari di dalamnya, kecuali satu hari seumur hidupku. Lantas saat itu jempolku bengkak, keluar ulat kecil dan bernanah. Aku baru tahu kemudian, Sunnatullah berjalan, bahwa setiap aku berbuat salah, langsung diganjar dengan akibatnya seketika. Aku sakit empat kali di Mesir ini. Setiap kali sakitku sampai empat bulan baru sembuh, dan setiap aku sakit tidak sembuh kecuali setelah makan buah Zaitun Hitam.."
Ketika usia beliau genap 9 tahun, ia dikirim untuk belajar konveksi, tiga hari selama seminggu, Kamis, Jum'at dan Senin. Ini dibelajarkan agar terpadu antara pengetahuan industri dan agama.

Mendalami Agama


Syeikh Zarruq bercerita, "Berada dalam didikan nenekku yang faqih, Ummul Banin, hingga usiaku 10 tahun. Pada saat yang sama aku sudah hafal Al-Qur'an, dan aku belajar jahit menjahit. Maka ketika usiaku 16 tahun, aku dikirim untuk mendalami ilmu agama. Aku mengkaji kitab Ar-Risalah pada dua Syeikh, As-Sitththy dan Abdullah al-Fakhkhar., dengan kajian yang dalam. Kemudian mendalami soal macam-macam Qira’at pada Al-Qawry, az-Zarhuny, orang yang sangat saleh. Juga pada Al-Majashy, dan Al-Ustadz Asy-Saghir mengenai bacaan huruf ala Nafi'.

Kamudian aku dalami pengetahuan Tasawuf dan Tauhid, antara lain Ar-Risalatul Qudsiyah dan Aqaid ath-Thousy, pada Syeikh Abdurrahman Al-Majdulisy salah satu murid al-Ubay. Juga sebagian kajian At-Tanwir (karya Ibnu Athaillah) pen.) pada Al-Qowry, dari beliau pula saya belajar Al-Bukhary. Kemudian belajar fiqih pada Abdul Haq ash-Shughra, dan Jami at-Tirmidzy. Tak terhingga guru-guru fiqih maupun tasawufku."
Kelak Syeikh Zarruq dikenal sebagai Mursyid Thariqah Syadziliyah, dan mensyarahi karya Ibnu Athaillah as-Sakandary, Al-Hikam. Diantara keunikan Syarah Syeikh Zarruq, ketika beliau mensyarahi Al-Hikam sampai terulang 17 kali. Setiap kali khatam membuat syarah kitab Al-Hikam selalu hilang, atau dicuri orang. Dan syarah yang masih utuh hingga sekarang adalah syarah Al-Hikam yang ke 17.
Setiap satu syarah yang lalu maupun yang kali berikutnya selalu berbeda. Itulah misteri Kitab Al-Hikam.

Murid-muridnya

Diantara para Ulama besar yang menjadi murid Syeikh Zarruq antara lain: Syeikh Ahmad al-Manjur, w. 955 h. Syeikh Sams al-Luqqany, w. 935 h. Syeikh Muhammad bin Abdurrahman al-Hatthab, w. 945 h. Syeikh Zein Thohir Al-Qisthiny, w. 899. Syeikh Abdul Wahab az-Zaqqaq, w.961 h. Abu Abdullah Muhammad bin Abu Jum'ah al-Hibthy, w. 930 h. Abdurrahman Al-Qinthary as-Sifyany al-Hibthy, 956 h. Syeikh Abu Abdullah Muhammad bin Ali Al-Khorruby ath-Tharablusy, w. 963 h. Muhammad Abul Fadhal Kharuf al-Anshary at-Tunisy w. 966 h, Abul Hasan Al-Bakry, seorang pendiri Thariqat Al-bakriyah. Dan masih banyak lagi yang tak bisa disebut disini.

Karya-karyanya


Begitu banyak karya Syeikh Zarruq, terutama dalam bidang Tasawwuf, antara lain:

1. Syarah Hizib Bahrnya Asy-Syadzily
2. Syarah Aqaidul Ghazaly
3. Risalah (sebuah surat panjang yang ditujukan kepada para pengikut Thariqah Zarruqiyah Syadziliyah)
4. Kumpulan ucapan-ucapannya
5. Syarah Qasidah Nuniyah
6. Syarah Hizbul Kabir
7. Kitabus Shina'ah
8. Risalah Fis Tasawuf
9. Ushuluth Thariqoh
10. Nadzmu Fushulis Saamy
11. Nadzmu 'Uyubin Nafs
12. Qawaidut Tasawwuf wa Ushulihi
13. I'anatul Mutawajih al-Miskin ala Thariqah al-Fath wat-Tamkin
14. Qashidah Tsaniyah fil Hats alal 'Uzlah
15. Adzdzarruy Syariah fi Ushulit Thariqah
16. Tambih Dzawil Himam 'ala Ma'aanil Alfaadzil Hikam
17. As-Silsilah az-Zarruqiyah
18. Kitabul Jami' Lijumalil Fawaid wal-Manafi'
19. Al-Mawahibus Saniyah fi Khowashi Nadhzri Asmail Husna (Ad-Dimyathiyah), Syarah ringkasan Ad-Dimyathy.
20. Al-Maqshadul Asmaa bidzikri Himmaty maa Yataallaqu bijumlatil Asma
21. Mukhtashar Alal Muqaddimah Alwaghlisiyah
22. Khanah Ibnu Yusuf
23. Syarh Mukaddimah al-Quthubiyah
24. At-Thariqah az-Zaruqiyah
25. Syarhun Nashihah Al-Kafiyah liman Khashshau bil 'afiyah
26. Risalah fil Wa'dzi
27. Khawashu Asmail Husna
28. Ad-Durratul Bahiyah
29. Syarah ala Matnir Risalah
30. Ta'sis Qawaidul wal Ushul
31. Risalah fi Ahwaliz Zaman
32. Fathu Maqamil Asma fi Ba'dh Maa Yataallaqu bil Asma
33. Syahul Hikamil Athaiyah
34. Al-Burdah asy-Syarifah fil Kalam 'ala Ushulit Thoriqoh
35. Syarhi Mabahitsil Ashliyah fi Thoriqoh as-Shufiyah
36. Ahkamul Hajj
37. Rusalah Shufiyah

Beliau wafat hari ke 18 bulan Safar tahun 899 h/1493 M, pada usia 54 tahun, meninggal di Misrathah wilayah Tharablus ibukota Libia, dan makamnya sangat terkenal disana.

Syeikh Abul Hasan Asy-Asyadzily, Dia berkata: Cahaya dari cahaya Allah Dia titipkan ke dalam hati hamba-Nya yang beriman sehingga memutusnya dan selain-Nya. Maka, itulah keikhlasan yang tidak dapat ditengok oleh malaikat lantas menulisnya, oleh setan lalu merusaknya, maupun oleh hawa nafsu lantas memiringkannya.

Dan, darinya mencabang empat kehendak: kehendak ikhlas dalam amal di atas pengagungan terhadap Allah, keikhlasan demi mengagungkan perintah Allah, kehendak ikhlas untuk menuntut ganjaran dan pahala, dan kehendak ikhlas dalam membersihkan amal dan noda-noda; tidak memperhatikan padanya selain itu.
Kita menghamba kepada-Nya dengan semua kehendak ini. Karena itu, siapa yang berpegang kepada satu darinya, maka dia orang yang ikhlas. Mereka berada dalam derajat-derajat di sisi Allah dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. Kepada isyarat inilah Allah Swt berfirman yang disampaikan oleh Jibril As, kepada Rasulullah Saw, “Ikhlas adalah rahasia dan rahasia-Ku yang Aku titipkan dalam hati hamba-hamba-Ku yang Aku cintai.” Syeikh berkata, “Riya’ adalah membebaskan hati dalam amal demi selain Allah pada sudut yang tidak diizinkan oleh Allah SWT.”

Kesaksian dalam Ikhlas


Beliau r.a. berkata: Aku melihat seolah-olah diriku sedang tawaf di Ka’bah seraya menuntut keikhlasan dan diriku, dan aku memeriksanya di dalam batinku. Tiba-tiba ada seruan, “Berapa sering kalian mendekat bersama orang-orang yang mendekat sedangkan Aku Maha Mendengar, Maha Mengetahui, Maha Dekat, Maha Waspada. Pengenalan dari-Ku mencukupkanmu dari ilmu orang-orang dahulu dan kemudian, kecuali ilmu Rasul dan para Nabi.

Ikhlas itu terdiri dari empat unsur: keikhlasan orang yang ikhlas dengan apa yang di ikhlaskan kepada yang di ikhlaskan kepada-Nya. Dan, itu ada dua bagian: keikhlasan shiddiqin (orang-orang yang jujur) dan keikhlasan shiddiqin. Ikhlas shadiqin adalah demi menuntut pahala sedang ikhlas shiddiqin itu wujud al-Haqq yang dimaksudkan, tidak ada sesuatu pun dari selain-Nya. Maka, siapa yang hal itu dititipkan ke dalam hatinya, dialah yang dikecualikan oleh lisan musuh-Nya dalam firman-Nya, “Aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka.” (QS. Shad [381]: 82—83).

Tiada ulasan:

Catat Ulasan